Profesor Jiang Xueqin Ramal Serangan Mirip 9/11 di 20 Tahun ke Depan

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Jumat, 25 September 2026 | 11:22:01 WIB
Profesor Jiang Xueqin memprediksi serangan mirip 9/11 akan menyasar infrastruktur keuangan Amerika Serikat dalam dua dekade mendatang.

MALUKU — Profesor Jiang Xueqin, pendidik kelahiran China berkewarganegaraan Kanada yang dijuluki "Nostradamus-nya China", memprediksi serangan mirip 9/11 akan menyasar infrastruktur keuangan Amerika Serikat dalam dua dekade mendatang. Prediksi itu ia sampaikan dalam podcast The Diary of A CEO bersama Steven Bartlett, awal tahun ini. Xueqin juga meyakini peradaban global akan runtuh sebelum serangan tersebut terjadi.

Jiang Xueqin bukan nama asing di kalangan pengamat geopolitik digital. Lulusan Yale itu dikenal lewat saluran YouTube Predictive History dan sejumlah prediksi yang ia buat pada 2024, beberapa di antaranya ia klaim telah menjadi kenyataan. Dalam wawancara bersama Steven Bartlett, ia memetakan pola, insentif, dan perilaku lembaga untuk menyusun proyeksinya tentang dua dekade ke depan.

Siapa Jiang Xueqin dan Dari Mana Prediksinya Berasal

Xueqin adalah pendidik kelahiran China yang kini berkewarganegaraan Kanada. Ia mengklaim dirinya sebagai salah satu tokoh paling kontroversial di dunia saat ini. Metodenya bukan ramalan mistis, melainkan analisis pola historis dan cara kerja institusi.

"Saya pikir ada banyak orang yang tidak menyukai apa yang saya katakan. Saya adalah salah satu tokoh yang paling kontroversial di dunia saat ini. Tapi saya mencoba mempersiapkan semua orang," ujarnya dalam podcast tersebut, seperti dikutip dari LadBibble.

Mengapa Infrastruktur Keuangan AS Jadi Target

Menurut Xueqin, jika serangan serupa 9/11 kembali terjadi di Amerika Serikat, sasarannya bukan gedung atau transportasi, melainkan sistem keuangan. Ia menilai teroris era baru mencari efek trauma massal lewat kelumpuhan ekonomi, bukan korban fisik semata.

Ia menggambarkan skenario tersebut dengan contoh sederhana. Seseorang membuka iPhone untuk membeli kopi, perangkat tidak terbaca, lalu ia menghubungi bank dan tidak bisa mengakses dananya. Setelah berjam-jam cemas, ia baru menyadari ada serangan terhadap server data keuangan AS yang penting.

"Dan semua uang di rekening bank Anda telah lenyap dan mereka tidak tahu kapan atau berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memulihkannya," lanjut Xueqin.

Dampaknya, jutaan orang diperkirakan panik luar biasa. Namun Xueqin menilai peradaban bisa lebih dulu runtuh sebelum skenario itu terwujud.

Keruntuhan Peradaban dalam 20 Tahun ke Depan

Xueqin berpendapat manusia telah mencapai titik tertinggi kemajuan teknologi dan tidak bisa melangkah lebih jauh. Alasannya, kemajuan teknologi menuntut spesialisasi dan globalisasi yang lebih besar, sementara yang terjadi justru sebaliknya.

Ia menyebut perang di Iran sebagai pemicu rangkaian peristiwa yang memaksa negara-negara kembali ke pendekatan yang lebih umum. Dari situ ia menarik kesimpulan yang lebih keras.

"Kita tidak sedang mengalami Perang Dunia III. Kita tidak sedang mengalami pergeseran tatanan global. Kita akan mengalami keruntuhan peradaban itu sendiri dalam 20 tahun ke depan," yakinnya.

Yang ia maksud dengan runtuhnya peradaban adalah ketidaksetaraan besar-besaran, utang, dan polarisasi. Ketika sistem itu runtuh, menurutnya seluruh dunia ikut runtuh.

Paralel dengan Keruntuhan Zaman Perunggu

Xueqin membandingkan situasi saat ini dengan keruntuhan Zaman Perunggu. Peristiwa itu dipicu perubahan iklim, memicu kelaparan, mendorong migrasi ke daerah yang masih punya pangan, lalu membuat sistem kewalahan dan dunia kehilangan ketertiban.

"Semua ini adalah unsur-unsur peradaban yang sangat mendasar. Saya yakin bahwa kita sedang menyaksikan runtuhnya peradaban," tutupnya.

Konteks 9/11 dan Relevansinya bagi Pembaca

Tragedi 9/11 adalah serangkaian serangan teroris bunuh diri terkoordinasi oleh al-Qaeda yang menargetkan Amerika Serikat pada 11 September 2001. Sebanyak 2.977 orang tewas, termasuk ratusan petugas pemadam kebakaran dan polisi yang berusaha menyelamatkan korban.

Peristiwa itu memicu kebijakan perang melawan terorisme global oleh AS, invasi ke Afghanistan, serta pengetatan pengamanan dan pengawasan transportasi udara secara drastis di seluruh dunia. Bagi pengguna smartphone dan pelaku bisnis digital, skenario Xueqin menyoroti satu hal: ketergantungan pada infrastruktur keuangan dan data terpusat adalah titik lemah yang nyata.

Prediksi Xueqin belum tentu terwujud. Namun cara ia membacanya memberi kerangka berpikir soal risiko sistemik yang perlu diantisipasi pelaku industri digital, bukan hanya lembaga keuangan.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top