Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Maluku mengolah limbah organik dan anorganik dari lingkungan pertanian menjadi pupuk padat, pupuk cair, hingga media tanam. Kepala BBRMP Maluku Gunawan menyebut pengolahan itu dilakukan agar sumber daya di sekitar lahan bisa kembali dipakai sebagai input pertanian.
AMBON — Limbah daun, ranting pohon, dan sisa hasil panen dicacah lebih dulu dengan mesin pencacah sebelum diolah menjadi pupuk organik padat. Pupuk itu kemudian dipakai mendukung kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman di lingkungan pertanian BBRMP Maluku.
Pengolahan tersebut sekaligus menekan volume limbah yang dihasilkan dari aktivitas pertanian sehari-hari. Gunawan menyatakan limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat dikembalikan ke lahan dalam bentuk bahan yang bermanfaat bagi tanaman.
Selain pupuk padat, BBRMP Maluku memanfaatkan daun gamal, batang pisang, sabut kelapa, dan buah-buahan yang sudah busuk untuk diolah menjadi pupuk organik cair. Langkah ini mengurangi ketergantungan terhadap bahan dari luar sekaligus mendukung produktivitas tanaman.
“Pemanfaatan berbagai bahan organik tersebut dilakukan agar sumber daya yang tersedia di sekitar lingkungan pertanian dapat kembali digunakan sebagai input pertanian,” kata Gunawan di Ambon.
Untuk limbah anorganik, botol minuman plastik yang terkumpul dimanfaatkan sebagai bagian dari raised-bed gardening dan media tanam. Botol-botol itu dikreasikan menjadi bagian taman agro sehingga tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga berfungsi sebagai media tanam dan memperindah lingkungan pertanian.
Melalui pengelolaan itu, BBRMP Maluku menunjukkan limbah pertanian maupun limbah kantor dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang mendukung kegiatan budidaya. Lingkungan pertanian pun menjadi lebih bersih dan berkelanjutan.
“Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat dikembalikan ke lahan dalam bentuk bahan yang bermanfaat bagi tanaman,” ujarnya.