Timnas Indonesia Ditahan Malaysia 0-0, Taktik Herdman Disorot Pengamat

Penulis: Tedy Rustandi  •  Rabu, 30 September 2026 | 18:48:01 WIB
Pemain Timnas Indonesia berusaha melewati pemain Malaysia pada laga Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di SUGBK, Jakarta.

MALUKU — Timnas Indonesia gagal memetik kemenangan atas Malaysia setelah bermain imbang 0-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (28-9-2026). Hasil ini membuat Garuda menempati posisi kedua Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 dengan empat poin, tertinggal selisih gol dari Malaysia.

Laga melawan Malaysia menjadi bahan evaluasi serius bagi John Herdman. Pelatih asal Inggris itu menurunkan komposisi pemain naturalisasi, tetapi Timnas Indonesia belum mampu mengembangkan permainan secara maksimal.

Garuda kesulitan menciptakan peluang sepanjang pertandingan dan harus puas bermain tanpa gol hingga peluit akhir. Penguasaan bola yang dimiliki tidak berbanding lurus dengan ancaman nyata di depan gawang lawan.

Sistem 5-4-1 Herdman Dianggap Butuh Koordinasi Ketat

Pengamat sepak bola nasional Luciano Leandro menilai pilihan formasi Herdman sebenarnya bisa efektif, asalkan didukung koordinasi antarlini yang rapi. Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada status pemain naturalisasi atau lokal.

"Masalahnya bukan karena pemain naturalisasi atau lokal. Sepak bola tidak ditentukan oleh paspor pemain, tetapi oleh struktur, chemistry, peran dan cara tim bermain sebagai satu kesatuan," ujar Luciano kepada Bola.com, Selasa (29-9-2026).

"Herdman memilih sistem 5-4-1. Sistem ini sebenarnya bisa sangat efektif untuk menjaga keseimbangan, tetapi konsekuensinya adalah, Indonesia membutuhkan koordinasi yang sangat baik untuk melakukan transisi dari bertahan ke menyerang," imbuhnya.

Kontrol Lini Tengah Jadi Titik Lemah Garuda

Persoalan Timnas Indonesia paling terlihat ketika harus mempertahankan kendali permainan di area tengah. Penguasaan bola yang dimiliki belum mampu diterjemahkan secara konsisten menjadi ancaman nyata.

"Menurut saya, masalah utama adalah Indonesia terlalu mudah kehilangan kontrol di lini tengah dan tidak cukup cepat mengubah possession menjadi peluang," ulas mantan pemain Persija Jakarta itu.

Situasi kian berat selepas Garuda bermain dengan 10 pemain akibat kartu merah. Luciano menilai Herdman dituntut melakukan perubahan pendekatan agar keseimbangan tim tetap terjaga.

"Setelah kartu merah, situasinya tentu makin berat. Dalam kondisi seperti itu pelatih harus melakukan adaptasi secara cepat: memperkecil ruang, menjaga struktur, tetapi tetap mempunyai outlet untuk melakukan counter attack," katanya.

Kualitas Individu Belum Jadi Kekuatan Kolektif

Luciano tidak sepenuhnya menyalahkan Herdman atas hasil imbang melawan Malaysia. Meski begitu, ia menyebut sejumlah aspek taktik tetap perlu menjadi bahan evaluasi, terutama cara Indonesia membangun serangan dan bagaimana gelandang mendukung striker.

"Saya tidak akan mengatakan Herdman salah total. Tetapi, ada beberapa keputusan taktis yang perlu dievaluasi, terutama bagaimana Indonesia membangun serangan, bagaimana gelandang mendukung striker dan bagaimana tim bereaksi ketika lawan berhasil menguasai pertandingan," ucapnya.

"Materi pemain Indonesia sangat bagus. Sekarang tantangannya adalah mengubah kualitas individu menjadi kekuatan kolektif. Laga ini menjadi pelajaran penting: nama besar pemain tidak cukup. Indonesia membutuhkan struktur permainan yang jelas, koneksi antarlini dan keberanian untuk bermain lebih progresif," imbuh Luciano.

Bangladesh Jadi Penentu Tiket Final

Timnas Indonesia masih menyisakan satu pertandingan di Grup A FIFA ASEAN Cup 2026. Garuda akan menjamu Bangladesh di SUGBK, Kamis (1-10-2026) malam WIB.

Duel tersebut menjadi kesempatan bagi Tim Garuda mengamankan tiket final. Kemenangan atas Bangladesh memastikan langkah Indonesia ke partai puncak tanpa bergantung pada hasil laga lain.

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: bola.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top