IHSG Naik 0,46% ke 6.036, Asing Masih Net Sell Rp 1,31 Triliun

Penulis: Pandu Wibisono  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 08:50:01 WIB
IHSG ditutup menguat 0,46% ke level 6.036,89 pada perdagangan Jumat (2/10).

MALUKU — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,46% ke level 6.036,89 pada perdagangan Jumat (2/10), meski investor asing membukukan net sell Rp 1,31 triliun di pasar reguler. Penguatan indeks ditopang saham perbankan dan teknologi, sementara sektor industri menjadi satu-satunya penekan terbesar dengan koreksi 1,70%.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat tujuh dari 11 sektor saham berakhir di zona hijau. Sektor teknologi memimpin kenaikan dengan 1,51%, disusul sektor lain yang bergerak positif. Sebaliknya, sektor industri turun paling dalam 1,70%.

BBCA menguat 1,67%, DCII naik 3,66%, dan ASII bertambah 2,66% menjadi penopang utama indeks. AMMN terkoreksi 2,97%, MORA turun 4,09%, dan BBRI melemah 0,65% menahan laju IHSG.

Nilai net sell asing di pasar reguler mencapai Rp 1,31 triliun. Jika mencakup seluruh pasar, net sell tercatat Rp 1,27 triliun.

Saham GOTO Rebound Setelah Empat Hari ARB

Saham GOTO mencatat technical rebound setelah sebelumnya terkena auto reject bawah (ARB) selama empat perdagangan berturut-turut. Sentimen eksternal juga positif: ETF EIDO naik 0,60% dan indeks MSCI Indonesia menguat 0,80%.

Bursa Amerika Serikat bergerak naik. Dow Jones menguat 0,4% ke 51.176, S&P 500 tumbuh 0,73% ke 7.722, dan Nasdaq naik 1,19% ke 27.190.

KIJA Akuisisi 51% Saham KIS, Kantongi 500 Hektare di Kendal

PT Jababeka Tbk (KIJA) memperluas kawasan industri ke Jawa Tengah melalui anak usaha Indocargomas Persada (IP). KIJA mengambil alih 51% saham PT Kawasan Industri Seafer (KIS) dari Seafer Lumina Capital pada 1 Oktober 2026 dengan nilai Rp 340,86 miliar.

Saham yang diakuisisi mencapai 340,86 juta lembar, sehingga KIS menjadi entitas anak yang dikonsolidasikan dalam laporan keuangan KIJA. Dari transaksi ini, KIJA memperoleh akses land bank sekitar 500,24 hektare di Kabupaten Kendal.

Kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak 2019 dan masuk dalam Kawasan Industri Prioritas. Pengembangannya mencakup industri kimia, logam dasar, logistik maritim terintegrasi, manufaktur kendaraan listrik, pergudangan, dan data center.

Ekspansi ini menambah cakupan kawasan industri KIJA di Jawa Tengah. Perseroan sebelumnya memiliki kawasan industri lebih dari 2.000 hektare di sisi barat Kendal yang dikelola bersama Sembcorp. KIS berada sekitar 15-20 kilometer di sisi utara kawasan tersebut.

Akuisisi dikategorikan non-material karena nilainya setara 4,39% terhadap ekuitas KIJA per 1H26 yang mencapai Rp 7,77 triliun, masih di bawah batas 20%. Transaksi juga bukan transaksi afiliasi sehingga tidak memerlukan persetujuan RUPS.

ERAA Buka 272 Gerai Bersih, Siapkan Ekspansi ke F&B

PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) memperlebar cakupan bisnis melalui Erajaya Food and Nourishment (EFN). Perseroan menyiapkan ekspansi ke sektor makanan dan minuman, salah satunya membawa merek donat asal Jepang, I'm Donut, ke Indonesia pada kuartal IV 2026. Sebelumnya, ERAA telah membuka Oriental Kopi pada tahun ini.

Ekspansi juga dilakukan melalui jaringan Erablue. Hingga Agustus 2026, jumlah gerai Erablue mencapai 307 lokasi, bertambah 126 gerai sejak awal tahun dan naik 172 gerai dibandingkan Agustus 2025. ERAA selanjutnya membidik kota-kota lapis kedua di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Sepanjang Januari-Agustus 2026, ERAA membuka 399 gerai dan menutup 127 gerai, menghasilkan tambahan bersih 272 gerai. Pendapatan Erablue tumbuh 88% secara tahunan selama 8M26, dengan SSSG kumulatif 14,90% YoY. SSSG Agustus mencapai 7,90% YoY, naik dari 5,40% YoY pada Juli.

AALI Buyback Rp 400 Miliar, EPS Naik ke Rp 575

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menyiapkan buyback saham dengan alokasi dana maksimal Rp 400 miliar dari kas internal, di luar biaya perantara pedagang efek dan biaya lainnya.

Dalam proforma laporan keuangan per 30 Juni 2026, jika seluruh rencana buyback terealisasi, aset AALI diperkirakan menjadi Rp 28,50 triliun dari Rp 28,90 triliun. Ekuitas diproyeksikan turun menjadi Rp 24,20 triliun dari Rp 24,60 triliun, sementara laba bersih periode berjalan tetap Rp 1,10 triliun.

Laba per saham secara proforma diperkirakan naik menjadi Rp 575 dari sebelumnya Rp 571. Buyback berlangsung paling lama tiga bulan, terhitung 2 Oktober hingga 28 Desember 2026, melalui satu perusahaan efek di BEI.

AALI dapat menjalankan aksi tersebut tanpa persetujuan RUPS berdasarkan kebijakan relaksasi OJK dalam kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan. Ketentuan itu mengacu pada Surat OJK No. S-112/D.04/2026 tanggal 9 September 2026, POJK 13/2023, dan POJK 29/2023.

Rekomendasi Saham

  • AADI — Buy 11.450-11.500 | TP 11.650-11.850 | SL 10.925
  • CYBR — Buy 496-498 | TP 515-525 | SL 474
  • ESSA — Buy 575-585 | TP 600-610 | SL 555
  • ADRO — Buy 2.480-2.500 | TP 2.540-2.570 | SL 2.380
  • LPKR — Buy 45-47 | TP 48-49 | SL 42
Reporter: Pandu Wibisono
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top