AMBON — Koordinator Satupena Sulawesi Selatan Rusdin Tompo mengungkap pengalaman pertamanya bersentuhan dengan kopi terjadi saat ia masih kanak-kanak di Ambon. Ketika itu, ia belum menjadi peminum kopi, melainkan hanya meniru kebiasaan tetangga yang mengonsumsi kopi dengan cara tidak biasa. Sesendok kopi yang dicampur gula ditaruh di atas telapak tangan, lalu dijilat seperti es krim.
Cara itu memberi sensasi rasa yang unik baginya. Di rumahnya di Air Putri, Ambon, hanya kakak iparnya, Daeng Amir, yang rutin minum kopi pagi dan sore. Persediaan kopi selalu ada di stoples, tetapi sebagian besar anggota keluarga tidak menyentuhnya untuk dikonsumsi.
Kopi di rumah keluarga Tompo kala itu lebih berfungsi sebagai sajian untuk tamu. Ketika ada orang datang berkunjung, stoples kopi baru dibuka. Kebiasaan itu membuat kopi bukan minuman sehari-hari bagi anak-anak di rumah.
Bahkan ketika remaja dan duduk di bangku SMA, Rusdin sama sekali bukan peminum kopi. Ada stigma di Ambon pada masa itu yang menganggap remaja yang minum kopi seperti orang tua.
Kondisi pasar kopi pun berbeda dengan sekarang. Belum ada kopi saset dengan banyak varian rasa dan merek. Rumah tangga harus punya stok kopi bubuk yang dibeli di pasar secara eceran per ons.
Ketika persediaan kopi mulai menipis di stoples, orang tua akan meminta Rusdin ke pasar membeli kopi giling. Sebutan itu merujuk pada kopi yang digiling atau digrinder di tempat penjualan.
Sebelum digiling, konsumen lebih dulu memilih jenis kopi yang akan dibeli. Biji-biji kopi diletakkan dalam stoples berukuran sama, sehingga bentuk bulat, oval, dan lonjongnya terlihat jelas. Pilihan itu menentukan rasa kopi yang akan dibawa pulang.
Pengalaman itu membekas hingga ia pindah ke Makassar. Di era akhir 80-an hingga tahun 90-an, Rusdin kerap membuat spanduk dan mendekor acara pesta pernikahan. Pekerjaan itu menuntut ia begadang untuk menyelesaikannya.
Kebiasaan begadang itulah yang kemudian mendekatkannya dengan kopi. Meski awalnya bukan penikmat, kopi perlahan menjadi bagian dari ritme kerjanya. Cerita-cerita itulah yang kini ia rangkai sebelum menyusun buku dengan menu utama kopi.