MALUKU — Perum Bulog menegaskan beras premium produksinya tetap tersedia di ritel modern dan membantah produk tersebut langka di pasaran. Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut pihaknya telah menyalurkan sekitar 60.000 ton beras premium ke pasar dari Sabang sampai Merauke, dari target 300.000 ton yang diminta Menteri Pangan.
Paragraf pembuka: Bulog mengejar sisa target penyaluran dengan menggandeng 868 penggilingan padi yang mampu memproduksi beras premium. Perusahaan pelat merah itu juga sudah menandatangani perjanjian dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) untuk memastikan pasokan masuk ke rak-rak toko modern.
Dua Merek Andalan Bulog
Beras premium Bulog dipasarkan lewat dua merek, yakni Setra Befood dan Punokawan. Keduanya diproduksi khusus sebagai produk komersial, berbeda dari beras medium yang selama ini identik dengan operasi pasar dan bantuan pangan.
"Enggak. Kita sudah produksi sesuai dengan bahkan sudah buat perjanjian dengan teman-teman Aprindo ya, khususnya. Semua ritel-ritel modern kita dukung," kata Rizal saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta.
Untuk mengejar volume, Bulog melibatkan ratusan penggilingan yang dinilai punya kapasitas menghasilkan beras kualitas premium. Rizal menyebut arahan Menteri Pangan menjadi dasar percepatan penyaluran.
60 Ribu Ton Sudah Mengalir ke Pasar
Dari target 300.000 ton, Bulog mencatat sekitar 60.000 ton beras premium sudah digelontorkan ke pasar. Sisanya masih dikejar dengan memanfaatkan jaringan penggilingan yang tersebar di sejumlah daerah.
"Perintah Pak Menteri kan mintanya 300.000. Nah, kami lagi ngejar ini, makanya kami mohon maaf, melibatkan sekitar 868 ya, penggilingan-penggilingan padi yang mampu membuat beras premium, kami libatkan," ucap Rizal.
Ia memastikan tidak ada kendala berarti dalam proses produksi maupun distribusi. Menurutnya, persoalan utama hanya soal mengejar volume dalam waktu cepat.
Respons Kemendag soal Kelangkaan
Menteri Perdagangan Budi Santoso sebelumnya merespons keluhan soal beras premium kemasan 5 kg yang sulit ditemukan di sejumlah ritel modern. Kemendag mengaku terus berkoordinasi dengan Bulog dan Aprindo agar pasokan kembali normal.
"Sekarang kan ada beras premium juga dari Bulog, namanya Befood," ujar Budi di sela acara Peluncuran Cetak Biru Pengembangan SDM Perdagangan Menuju Indonesia Emas 2045 dan Trade Corporate University Kemendag.
Budi menjelaskan, Aprindo berperan sebagai pihak yang menjual produk di jaringan ritel. Karena itu, koordinasi difokuskan agar Bulog bisa memasok lebih masif ke anggota asosiasi tersebut.
"Aprindo kan yang jualan ya, jadi kita koordinasi terus justru supaya Bulog bisa memasok ke Aprindo," jelasnya.
Beras Medium Menyusul
Selain beras premium, Kemendag dan Bulog tengah menyiapkan varian beras medium yang rencananya turut didistribusikan ke ritel modern dalam waktu dekat. Langkah ini disebut untuk memperluas pilihan konsumen sekaligus menjaga kestabilan pasokan di pasar ritel.
Bagi konsumen, ketersediaan beras Bulog di ritel modern menjadi alternatif saat harga beras premium merek lain melonjak. Bagi Bulog, keberhasilan mengejar 300.000 ton akan menentukan posisinya sebagai pemain komersial, bukan sekadar penyalur bantuan pangan.