Pencarian

AALI Bagi Dividen Interim Rp233 per Saham, Tertinggi Sejak 2018

Kamis, 01 Oktober 2026 • 08:50:31 WIB
AALI Bagi Dividen Interim Rp233 per Saham, Tertinggi Sejak 2018
AALI menetapkan dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp233 per saham.

MALUKU — PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menetapkan dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp233 per saham, dengan total mencapai sekitar Rp449,02 miliar. Besaran dividen per saham ini menjadi yang tertinggi sejak 2018, menyusul lonjakan laba bersih perseroan pada semester I 2026.

Paragraf pembuka: Keputusan dividen AALI diambil setelah perseroan membukukan laba bersih Rp1,10 triliun pada paruh pertama 2026, naik 56,51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp702,12 miliar. Dengan laba tersebut, dividen interim Rp233 per saham mencerminkan dividend payout ratio (DPR) sebesar 40,86%.

Laba Ditahan Rp19 Triliun Jadi Penopang

AALI masih memiliki saldo laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp19 triliun per semester I 2026. Saldo itu memberi ruang bagi perseroan untuk membagikan dividen lebih besar tanpa mengganggu modal kerja.

Dividen interim Rp233 per saham ini menjadi yang tertinggi yang pernah ditetapkan AALI sejak 2018. Artinya, pemegang saham menerima pengembalian lebih besar di tengah tekanan pasar yang masih berlangsung.

MITI Gandeng Perusahaan China Kembangkan Tambang Silika

Di sisi lain, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) menjalin kerja sama dengan PT CNEC Engineering Indonesia (CNEC INA) untuk mengembangkan tiga konsesi tambang pasir silika milik anak usahanya. Kerja sama itu dituangkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada 29 September 2026.

CNEC INA merupakan anak usaha dari China Nuclear Engineering & Construction Corporation, perusahaan milik negara China. Pengembangan konsesi mencakup tahapan eksplorasi, studi kelayakan, hingga rekayasa teknis.

Kemitraan tersebut juga membuka peluang dukungan pendanaan untuk mengembangkan konsesi pasir silika MITI yang selama ini belum beroperasi. Langkah ini sejalan dengan agenda hilirisasi pasir silika nasional, di mana Indonesia memiliki cadangan sekitar 7,80 miliar ton.

Rantai hilirisasi pasir silika diarahkan menuju industri panel surya. Salah satu tahap pengolahannya menghasilkan wafer silikon solar-grade yang menjadi bahan dasar sel surya. Proses ini disebut berpotensi meningkatkan nilai tambah material hingga sekitar 1.300 kali lipat.

DEWA Incar Kontrak Baru di Tengah Aturan Baru ESDM

PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melihat peluang memperoleh kontrak baru di luar proyek yang saat ini dikerjakan. Peluang itu ditopang kapasitas operasional berskala besar, ketersediaan armada, kemampuan teknis, serta akses pendanaan.

Perhatian muncul setelah pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 365.K/2026. Aturan itu membatasi penggunaan anak usaha dan afiliasi dari pemegang Izin Usaha Jasa Pertambangan (IUJP) di sektor mineral dan batu bara.

Bagi DEWA, ketentuan tersebut disebut tidak memberikan dampak material. Perseroan masih dapat menyesuaikan struktur perizinan dan operasional agar sesuai dengan aturan baru.

DEWA merupakan kontraktor independen bagi Kaltim Prima Coal (KPC) dan Arutmin Indonesia. Keterlibatan perseroan telah dilaporkan dan mendapat persetujuan Kementerian ESDM melalui RKAB tahunan.

KPC dan Arutmin juga terlibat dalam proyek strategis nasional gasifikasi batu bara melalui Bumi Etam Chemical. Keduanya mendapat penugasan domestic market obligation (DMO) dengan total pasokan mencapai 22,30 juta ton, setara sekitar 30% penjualan batu bara domestik 2025 atau 9% kebutuhan nasional. Kondisi itu menjadi salah satu faktor yang memungkinkan operasional DEWA masuk pengecualian pembatasan.

IHSG Tertekan, Asing Masih Jual Saham

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada Rabu (30/9) berakhir dalam tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,83% ke level 6.071,14.

Sejumlah saham menjadi penopang indeks, di antaranya UNTR yang naik 7,55%, MORA menguat 1,99%, dan EMAS bertambah 2,32%. Sebaliknya, GOTO mencatat penurunan terbesar dengan koreksi 13,51%. Saham TLKM turun 3,38%, sementara BBCA melemah 1,22%.

Investor asing masih mencatatkan penjualan bersih Rp1,56 triliun di pasar reguler dan Rp1,61 triliun di seluruh pasar. Delapan dari 11 sektor berakhir melemah, dengan sektor teknologi terkoreksi paling dalam 2,76%. Sektor industri masih menguat 1,17%.

Bursa saham Amerika Serikat bergerak beragam. Dow Jones turun 0,86% ke level 50.906, S&P 500 terkoreksi 0,25% ke 7.651, sedangkan Nasdaq naik 0,24% ke level 26.861.

Pelaku pasar juga mencermati mulai berlakunya aktivitas short selling pada 1 Oktober. Saham yang masuk daftar antara lain ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF. ETF EIDO turun 0,85% dan indeks MSCI Indonesia melemah 1,12%.

Penutup: Ketiga emiten menunjukkan arah berbeda di tengah tekanan pasar. AALI memilih membagikan dividen jumbo, MITI mengejar hilirisasi silika, sementara DEWA bersiap menambah kontrak baru meski ada aturan baru dari Kementerian ESDM.

Follow www.maluku24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks