Pencarian

Polda Maluku Catat Konflik Turun dari 180 ke 10 Kejadian, Perkuat Deteksi Dini lewat Polima

Sabtu, 03 Oktober 2026 • 21:40:01 WIB
Polda Maluku Catat Konflik Turun dari 180 ke 10 Kejadian, Perkuat Deteksi Dini lewat Polima
Personel Polda Maluku berinteraksi dengan warga dalam program Polisi Lingkungan Masyarakat (Polima) di Ambon.

Kepolisian Daerah Maluku memperkuat pencegahan konflik sejak gejala awal melalui program Polisi Lingkungan Masyarakat (Polima) di tengah tren penurunan angka konflik tiga tahun terakhir. Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi menyebut angka konflik tercatat 180 kejadian pada 2024, turun menjadi 90 kejadian pada 2025, dan 10 kejadian sepanjang 2026 hingga saat ini. Polda Maluku juga mengaktifkan pranata adat Baileo Emarina dan program Polisi Mengajar sebagai kanal pencegahan di tingkat komunitas.

AMBON — Polda Maluku menempatkan personel kepolisian yang tinggal dan berinteraksi langsung di lingkungan masyarakat sebagai ujung tombak deteksi dini. Pendekatan itu dijalankan lewat Polima, yang dirancang mengenali persoalan warga sebelum berkembang menjadi konflik terbuka.

Penurunan angka konflik selama tiga tahun terakhir menjadi latar penguatan program tersebut. Data Polda Maluku mencatat 180 kejadian pada 2024, lalu turun menjadi 90 kejadian pada 2025.

Sepanjang 2026, tercatat 10 kejadian sejak Januari hingga saat ini.

Mengapa Penurunan Angka Konflik Belum Cukup

Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi menegaskan penurunan itu tidak boleh membuat seluruh pihak lengang. Potensi persoalan tetap harus dikenali dan ditangani sejak tahap awal.

"Angka konflik di Maluku tercatat 180 kejadian pada 2024, kemudian turun menjadi 90 kejadian pada 2025. Sementara pada 2026, tercatat 10 kejadian sejak Januari hingga saat ini," kata Rositah di Ambon.

Ia menilai pendekatan pencegahan penting diterapkan di Maluku yang memiliki karakter sosial dan geografis beragam. Kehadiran polisi tidak hanya dibutuhkan saat gangguan keamanan terjadi.

Polima Andalkan Personel yang Tinggal di Tengah Warga

Polima bekerja dengan menempatkan personel kepolisian di lingkungan masyarakat. Tugasnya mengenali persoalan sejak dini dan menyelesaikannya secara cepat.

"Polima mengandalkan personel kepolisian yang tinggal dan berinteraksi di lingkungan masyarakat untuk mengenali persoalan sejak dini. Riak-riak kecil harus diselesaikan secara cepat dan kekeluargaan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar," ujar Rositah.

Menurut dia, komunikasi dengan warga dibangun sebelum persoalan membesar, bukan setelah konflik pecah.

Baileo Emarina dan Polisi Mengajar Jadi Kanal Pendamping

Selain Polima, Polda Maluku memperkuat pencegahan melalui pranata adat Baileo Emarina. Program itu melibatkan struktur adat yang sudah lama menjadi perekat sosial di kampung-kampung Maluku.

Polda Maluku juga menjalankan program Polisi Mengajar di lingkungan pendidikan. Kedua kanal itu melengkapi kehadiran personel di tengah masyarakat.

Call Center 110 dengan Response Time 10 Menit

Polda Maluku meminta warga memanfaatkan saluran resmi kepolisian saat menemukan potensi gangguan keamanan. Warga diimbau tidak mengambil tindakan sendiri.

"Kami juga memaksimalkan layanan Call Center 110 dengan response time maksimal 10 menit agar masyarakat memiliki saluran cepat untuk melaporkan persoalan dan tidak mengambil tindakan sendiri," kata Rositah.

Layanan itu disiapkan sebagai jalur pelaporan cepat agar persoalan di tingkat kampung tidak meluas menjadi konflik terbuka.

Follow www.maluku24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ambon.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks