SERAM BAGIAN TIMUR — BPBD Kabupaten Seram Bagian Timur bersama tim gabungan memadamkan kebakaran yang melanda dua desa pada 29 September. Pendinginan dilakukan setelah api berhasil dikendalikan. Keterbatasan armada dan akses menuju kawasan hutan di perbukitan memperlambat proses pemadaman.
Kesatuan Pengelolaan Hutan Seram Bagian Timur mencatat luas kebakaran berdasarkan analisis geospasial mencapai sekitar 280 hektare. Angka itu jauh lebih besar dari laporan awal 40 hektare yang terdampak di Desa Saalas dan Desa Silohan.
82 Titik Karhutla Ditangani dalam Tujuh Pekan
Sepanjang 11 Juli hingga 31 Agustus 2026, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Seram Bagian Timur menangani 82 titik karhutla. Jumlah itu menunjukkan frekuensi kejadian yang tinggi di wilayah tersebut selama musim kemarau.
Petugas menghadapi kendala armada terbatas dan medan yang sulit dijangkau. Kawasan hutan yang terbakar banyak berada di area perbukitan dan pegunungan. Kondisi ini membuat respons pemadaman bergantung pada kombinasi operasi darat dan dukungan pihak lain.
Krisis Air Bersih di Seram Bagian Barat
Dampak kekeringan tidak berhenti pada kebakaran lahan. Di Kabupaten Seram Bagian Barat, debit sumber air dan sumur warga di Desa Piru, Kecamatan Seram Barat, menurun. Sekitar 80 kepala keluarga terdampak krisis air bersih.
BPBD setempat mendistribusikan 8.000 liter air bersih pada 1 Oktober untuk memenuhi kebutuhan warga. Pasokan darurat itu menjadi penopang sementara hingga sumber air kembali normal.
Asap Tipis hingga Sedang Selimuti Sejumlah Wilayah Maluku
BMKG pada awal Oktober mencatat asap tipis hingga sedang di sejumlah wilayah Maluku. Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon memperingatkan potensi asap kategori sedang dalam beberapa hari berikutnya.
Asap tersebut berkaitan dengan kebakaran di Pulau Buru dan Pulau Seram serta pergerakan asap dari wilayah lain. Pada 30 September, BMKG mencatat 322 hotspot di kawasan Papua dan Maluku.
Hotspot Nasional Turun, Enam Provinsi Prioritas Masih Jadi Perhatian
Kementerian Kehutanan mencatat 527 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi pada Ahad, 4 Oktober 2026, hingga pukul 21.10 WIB. Jumlah itu turun 139 titik dibanding sehari sebelumnya yang mencapai 666 titik.
Data berasal dari pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) menggunakan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20. Penurunan terutama terjadi di Sumatera Selatan yang turun dari 254 menjadi 75 titik, Kalimantan Barat dari 26 menjadi 19 titik, serta Kalimantan Selatan dari 18 menjadi 15 titik.
Riau dan Jambi tidak lagi mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi pada periode pemantauan tersebut. Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 225 hotspot, turun dari 429 titik sehari sebelumnya. Namun Kalimantan Tengah justru naik dari 96 menjadi 116 titik.
El Niño Sangat Kuat Masih Pengaruhi Pola Cuaca
BMKG menyebut kondisi kering masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia memasuki Oktober. Pemantauan Hari Tanpa Hujan hingga dasarian II September menunjukkan 1.474 titik mengalami periode tanpa hujan kategori panjang hingga ekstrem panjang.
El Niño dengan intensitas sangat kuat masih mempengaruhi pola cuaca Indonesia. Penguatan Monsun Australia membuat sebagian wilayah bagian selatan cenderung lebih kering. Meski demikian, hujan lebat tetap dapat terjadi secara lokal karena dinamika atmosfer, suhu muka laut, serta daerah konvergensi dan belokan angin.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi satelit, bukan angka kejadian kebakaran atau luas lahan yang terbakar. Setiap indikasi perlu diverifikasi di lapangan. Pemerintah tetap mempertahankan operasi darat dan udara, termasuk patroli, pengecekan lapangan, pemadaman, penyekatan penjalaran api, pembasahan, serta pendinginan.