MALUKU — Laporan ketenagakerjaan yang lemah belum cukup untuk mengubah perhitungan para pengambil kebijakan di Federal Reserve. Fokus utama mereka tetap tertuju pada pergerakan inflasi yang hingga kini masih membandel di atas sasaran 2%.
Dalam lima tahun terakhir, tingkat inflasi AS konsisten melampaui target tersebut. Kondisi ini menjadi pertimbangan utama dalam setiap diskusi mengenai arah suku bunga acuan, termasuk ketika data ekonomi lain mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Laporan pekerjaan terbaru yang dirilis pekan lalu memang berada di bawah ekspektasi pasar. Namun, para pejabat bank sentral AS menilai satu laporan saja tidak cukup untuk mengalihkan prioritas mereka dari pengendalian harga.
Pasar sebelumnya sempat berekspektasi bahwa data tenaga kerja yang lemah akan mempercepat pemangkasan suku bunga. Kenyataannya, sinyal dari para pejabat Fed justru menunjukkan sikap yang lebih hati-hati. Mereka menunggu bukti yang lebih meyakinkan bahwa inflasi benar-benar bergerak menuju target sebelum mengubah arah kebijakan moneter.
Lima tahun berada di atas target inflasi bukan waktu yang singkat. Tekanan harga yang persisten membuat kredibilitas bank sentral ikut dipertaruhkan. Setiap keputusan untuk melonggarkan kebijakan moneter terlalu dini berisiko memicu gelombang kenaikan harga baru yang lebih sulit dikendalikan.
Pejabat Fed juga mencermati bahwa komponen inflasi di sektor jasa masih kaku. Upah yang tumbuh stabil di tengah pasar tenaga kerja yang ketat—meski mulai melonggar—berpotensi menjaga tekanan harga tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Sikap bank sentral AS yang belum berubah menjadi sinyal bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Implikasinya, dolar AS berpotensi tetap kuat terhadap mata uang utama lainnya, termasuk rupiah.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, kondisi ini berarti tekanan pada nilai tukar rupiah belum sepenuhnya reda. Bank Indonesia kemungkinan akan tetap berada dalam mode stabilisasi untuk menjaga kurs di level yang sehat, seiring dengan masih tingginya selisih imbal hasil antara obligasi AS dan Indonesia.
Investor pun perlu mencermati bahwa ekspektasi penurunan suku bunga global yang sempat menguat di awal tahun kini mulai terkoreksi. Arus modal asing ke pasar obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia, bisa menjadi lebih selektif dalam beberapa pekan ke depan.
Investasi mengandung risiko.