MALUKU — Kekurangan gizi pada anak tidak selalu berasal dari sulitnya mencari makanan. Di Desa Ketoyan, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, bahan pangan justru cukup mudah didapat. Masalahnya, pemahaman tentang menyusun menu dan porsi makan yang sesuai kebutuhan gizi anak masih menjadi tantangan.
Hal inilah yang mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler (KKN-R) Tim 2 Universitas Diponegoro (UNDIP) turun tangan. Mereka memperkenalkan konsep "Sorting Gizi" dan "Layouting Gizi" kepada masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu balita.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh kembang akibat kekurangan gizi kronis. Dampaknya bukan hanya pada tinggi badan anak, tetapi juga perkembangan kognitif, kesehatan, dan produktivitasnya saat dewasa.
Di lapangan, mahasiswa KKN menemukan menu harian balita masih didominasi sumber karbohidrat dengan porsi lebih besar. Sementara protein, sayur, buah, dan mikronutrien belum selalu diberikan dalam komposisi seimbang.
Kondisi ini disebut sebagai "mitos kenyang". Anggapan bahwa anak sudah mendapat makanan cukup ketika perutnya kenyang, tanpa memperhatikan keseimbangan nutrisi, perlu diluruskan.
Konsep pertama yang dikenalkan adalah Sorting Gizi. Masyarakat diajarkan memilah bahan pangan berdasarkan fungsinya sebelum diolah.
Desa Ketoyan sendiri punya potensi besar. Sebagai wilayah agraris, masyarakat mengembangkan padi, jagung, hingga usaha mikro pengolahan kedelai menjadi tempe. Bahan-bahan ini bisa dikombinasikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.
Konsep kedua, Layouting Gizi, mengajarkan cara menata makanan di piring dengan pembagian porsi seimbang. Piring makan anak diibaratkan seperti layout yang harus diatur dengan baik.
Dengan pendekatan ini, mahasiswa KKN ingin menekankan bahwa persoalan gizi bukan hanya soal "apa yang dimakan", tetapi juga "berapa banyak" dan "bagaimana komposisinya".
Pemerintah Kabupaten Boyolali terus mendorong percepatan penurunan angka stunting. Targetnya melampaui prevalensi nasional di bawah 14 persen.
Berdasarkan data e-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), prevalensi stunting di Boyolali berada di kisaran 7–8 persen atau sekitar 4.000 balita. Sementara Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat angka 12,13 persen dengan dinamika indikator lapangan mencapai 24,5 persen pada kelompok kajian tertentu.
Perbedaan angka ini menunjukkan intervensi yang lebih spesifik di tingkat desa sangat dibutuhkan. Desa Ketoyan, dengan 3.431 jiwa dan sekitar 603 balita, menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian.
Intervensi gizi paling krusial terjadi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Jika anak terlihat lahap makan tetapi berat badannya tidak naik sesuai grafik pertumbuhan, atau lebih pendek dari anak seusianya, segera konsultasikan ke posyandu atau puskesmas terdekat.
Mengubah kebiasaan makan keluarga memang butuh waktu. Namun memastikan setiap porsi makan anak mengandung karbohidrat, protein, sayur, dan buah adalah langkah awal yang bisa dilakukan ibu di rumah.