MALUKU — Kekalahan mental para penggawa Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2026 ternyata memicu efek berantai yang lebih pelik. Kekecewaan publik yang berujung pada aksi kebencian di media sosial kini membuat PSSI angkat bicara, bukan hanya soal performa di lapangan, tetapi juga keberlanjutan masa depan skuad Garuda di pentas internasional.
Kegagalan melaju dari fase grup A setelah hanya bermain imbang melawan Singapura di laga penentu menjadi titik awal kemarahan suporter. Namun, aksi kecaman yang diterima para pemain dinilai sudah kelewat batas. PSSI menyoroti bahwa serangan tersebut tidak lagi fokus pada kritik permainan, melainkan telah merambah ke ranah pribadi dan keluarga atlet.
Yunus Nusi menegaskan bahwa tekanan psikologis yang berlebihan justru menjadi boomerang bagi tim nasional. Ia khawatir para pemain, terutama yang berstatus diaspora, akan berpikir ulang untuk memperkuat Indonesia jika ancaman dan hujatan terus berlanjut.
"Kami khawatir, ketika tekanan ini semakin kuat, maka mereka bisa saja, dengan berbagai macam alasan untuk tidak lagi membela negara," kata Yunus Nusi dalam pernyataannya yang dikutip pada Rabu (18/12/2024).
Pernyataan ini menjadi sinyalemen penting bagi publik. Pasalnya, skuad Garuda saat ini banyak dihuni pemain keturunan yang memilih membela Indonesia di tengah tawaran dari negara lain. Keputusan mereka untuk bergabung seharusnya menjadi nilai plus yang patut dijaga, bukan justru dipersulit dengan serangan personal.
Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Justin Hubner. Bek berdarah Jawa-Belanda ini menjadi sasaran hujatan yang tidak hanya ditujukan kepadanya, tetapi juga keluarganya. Padahal, ia tidak tampil dalam skuad yang berlaga di Piala AFF 2026.
Yunus Nusi membela pemain yang dikenal memiliki kecintaan besar terhadap Indonesia tersebut. Ia menilai, kritik yang membangun adalah hal yang wajar dalam dunia olahraga, namun serangan pribadi yang melibatkan keluarga di luar konteks pertandingan adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan.
"Hal yang wajar jika menyampaikan kritik terhadap kinerja Timnas Indonesia. Namun seharusnya kritik tersebut tidak berubah menjadi serangan pribadi yang bahkan melibatkan pihak keluarga yang tidak berkaitan dengan hasil pertandingan," tegasnya.
PSSI menekankan bahwa rasa nasionalisme Justin Hubner dan pemain lainnya tidak perlu dipertanyakan. Keputusan untuk membela Merah Putih adalah pilihan besar yang diambil di tengah persaingan ketat sepak bola Eropa.
Alih-alih terus menyalahkan individu, PSSI mengajak seluruh elemen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap performa tim. Tekanan yang konstruktif akan lebih bermanfaat bagi perkembangan sepak bola Indonesia daripada sekadar melampiaskan kemarahan yang justru berpotensi menghancurkan mental pemain dan menghambat regenerasi skuad Garuda di masa depan.