Pencarian

Survei FSP BUMN Bersatu: 81,3% Publik Puas dengan Prabowo, tapi 53,6% Nilai Ekonomi Masih Buruk

Selasa, 11 Agustus 2026 • 12:13:01 WIB
Survei FSP BUMN Bersatu: 81,3% Publik Puas dengan Prabowo, tapi 53,6% Nilai Ekonomi Masih Buruk
Sebanyak 81,3% publik menyatakan puas terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran, sementara 53,6% menilai kondisi ekonomi nasional masih buruk.

MALUKU — Angka kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran masih bertengger tinggi. Namun di balik elektabilitas yang moncer, survei Litbang FSP BUMN Bersatu menemukan tanda bahaya: lebih dari separuh responden menilai situasi ekonomi nasional sedang tidak baik-baik saja.

Kepala Litbang FSP BUMN Bersatu, Tri Widodo Sektianto, mengatakan hasil survei ini menggambarkan kondisi yang timpang. "Kepuasan terhadap kinerja politik dan hukum sangat positif, tetapi persepsi ekonomi rumah tangga justru menunjukkan tekanan yang nyata," ujarnya.

Elektabilitas Prabowo Moncer, Ekonomi Jadi Catatan

Dalam simulasi pemilihan presiden yang digelar pada periode yang sama, Prabowo Subianto masih menjadi pilihan utama dengan 70,2% suara. Nama-nama lain seperti Dedy Mulyadi (8,5%), Anies Baswedan (6,9%), Gibran Rakabuming Raka (6,4%), dan AHY (4,3%) berada jauh di belakang.

Responden menilai sosok Prabowo sebagai pemimpin yang mencerahkan atau enlightening leader. Karakter ini dinilai memiliki kesadaran tinggi, memberi teladan, dan memandang kekuasaan sebagai amanah, bukan sekadar alat.

Kinerja pemerintah di bidang politik mendapatkan tingkat kepuasan tertinggi, yakni 86,2%. Sementara itu, sektor hukum memperoleh 82,7% dan bidang pendidikan serta bansos mencapai 84,3%.

Daya Beli Masyarakat Masih Tertekan

Catatan berbeda muncul dari sektor ekonomi. Sebanyak 53,6% responden menilai kondisi ekonomi saat ini buruk, sementara 25,4% lainnya menganggapnya biasa saja. Faktor terbesar yang disorot adalah ketidakpastian global (57,5%), disusul penurunan pendapatan (20,8%) dan kenaikan harga (20,3%).

Tri Widodo menjelaskan, tren ini sejalan dengan temuan survei Januari 2026. "Sebanyak 34,2% responden mengaku penghasilannya turun, dan lebih dari 36,1% pelaku usaha mengeluhkan omzet yang lesu," jelasnya.

Kondisi rumah tangga pun ikut terimbas. Hampir separuh responden (48,3%) menyatakan kondisi ekonomi keluarganya tidak menentu. Yang lebih memprihatinkan, hanya 30,1% yang mengaku memiliki tabungan sebagai jaring pengaman finansial.

Rentan Tanpa Jaring Pengaman

Pengukuran tingkat kerentanan ekonomi menunjukkan 63,8% responden berada dalam posisi sangat rentan. Artinya, mayoritas masyarakat belum memiliki persiapan finansial yang memadai untuk menghadapi guncangan ekonomi.

Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error ±2,78% pada tingkat kepercayaan 95%. Data dikumpulkan langsung dari responden di berbagai wilayah Indonesia dalam rentang waktu delapan hari.

Temuan ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah: mempertahankan kepercayaan publik yang tinggi di bidang politik dan hukum tidak cukup jika tekanan ekonomi masih membayangi rumah tangga masyarakat.

Follow www.maluku24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: aktual.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks